Kerjasama Lapas Pekanbaru dan Distankan, Warga Binaan Diajarkan Langsung Budidaya Ayam Petelur

Jumat, 17 Juli 2026

Foto bersama jajaran Lapas Pekanbaru dengan Distankan Pekanbaru saat pembukaan Pelatihan Teknis Budidaya Ayam, di aula Lapas Sahardjo, Jumat (17/7). LP

PEKANBARU, RAJARIAU- Lapas Kelas IIA Pekanbaru, terus saja melahirkan inovasi, dan harapan baru mulai menetas untuk warga binaan. 
Bukan hanya dari kandang-kandang ayam petelur yang akan dikelola, tapi juga dari semangat para warga binaan yang tengah mempersiapkan diri menyongsong kehidupan setelah masa pidana berakhir.
Ya, suasana Aula Sahardjo Lapas Pekanbaru pada Jumat (17/7) terasa berbeda. Sejumlah warga binaan tampak antusias mengikuti pembukaan Pelatihan Teknis Budidaya Ayam Petelur, sebuah program pembinaan kemandirian yang dirancang untuk membekali mereka dengan keterampilan praktis sekaligus membuka peluang ekonomi di masa depan.
Program tersebut menjadi buah kolaborasi antara Lapas Kelas IIA Pekanbaru dan Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Pekanbaru, melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berfokus pada pengembangan kompetensi warga binaan di bidang peternakan. 
Hadir dalam pembukaan kegiatan, Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru Yuniarto,bersama Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distankan Pekanbaru Zulpan Efendi, didampingi jajaran dokter hewan dan penyuluh yang akan mendampingi peserta selama pelatihan berlangsung.
Bagi Lapas Pekanbaru, pembinaan tidak hanya dimaknai sebagai proses menjalani hukuman.
Tapi juga sebagai ruang untuk membangun kembali kepercayaan diri dan kemampuan hidup. Karena itu, pelatihan budidaya ayam petelur dipilih sebagai salah satu keterampilan yang memiliki prospek usaha, sekaligus mendukung program ketahanan pangan.
"Kami ingin membekali warga binaan dengan keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat. Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan serta pemenuhan kebutuhan gizi warga binaan," tegas Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru Yuniarto.
Selama pelatihan, peserta tidak hanya dikenalkan pada teori dasar peternakan. Mereka juga akan mempelajari berbagai aspek teknis, mulai dari pemilihan bibit, manajemen pakan, perawatan kandang, pengendalian penyakit, hingga pengelolaan hasil produksi. 

Pendampingan langsung dari dokter hewan dan penyuluh diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif sehingga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Menurut Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distankan Pekanbaru Zulpan Efendi, keberhasilan sebuah pelatihan,tidak hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan.
Namun dari kemampuan peserta menguasai keterampilan yang bisa menjadi modal hidup.
"Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan dasar, tetapi juga pendampingan teknis agar warga binaan benar-benar memahami proses budidaya ayam petelur secara baik dan berkelanjutan. Kami berharap keterampilan ini nantinya dapat menjadi bekal usaha yang produktif setelah mereka kembali ke masyarakat," katanya.
Komitmen Distankan Pekanbaru diwujudkan melalui dukungan tenaga teknis, pendampingan, serta penguatan kapasitas peserta agar program berjalan optimal. 
Sinergi tersebut menjadi bukti bahwa proses pembinaan warga binaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar hasilnya benar-benar memberi dampak bagi kehidupan mereka di kemudian hari.
Pada akhirnya, pelatihan budidaya ayam petelur ini bukan sekadar mengajarkan cara menghasilkan telur. 
Lebih dari itu, program ini menjadi simbol bahwa setiap orang berhak memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan memulai kembali.
Dari balik tembok pemasyarakatan, benih-benih kemandirian terus ditanam, dengan harapan kelak tumbuh menjadi kehidupan yang lebih produktif ketika para warga binaan kembali menjadi bagian dari masyarakat. (van)