
Foto: Jajaran petinggi Lapas Kelas IIA Pekanbaru saat mengikuti Tabligh Akbar UAS, Rabu (21/10). FB UAS
PEKANBARU, RAJARIAU- Suasana haru dan khidmat menyelimuti lapangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru, saat 1.900 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti tabligh akbar bersama dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS), Rabu (21/10).
Mengusung tajuk “Merajut Hidayah di Balik Jeruji”, kegiatan keagamaan ini menjadi lebih dari sekadar siraman rohani.
Di tengah masa pembinaan yang dijalani, para warga binaan diajak kembali menumbuhkan keyakinan bahwa masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan bagian dari proses menuju perubahan yang lebih baik.
Dengan penuh perhatian, ribuan warga binaan menyimak setiap pesan yang disampaikan UAS.
Tausiah demi tausiah mengalir, membawa pesan tentang pertobatan, harapan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Di hadapan para warga binaan, UAS mengajak mereka menjadikan masa pembinaan sebagai momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menurutnya, setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah selama masih memiliki kemauan dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Masa lalu, tegas UAS, tidak seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk berhenti berharap. Sebab, pintu ampunan dan kesempatan memperbaiki diri selalu terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin bertobat.
“Jangan pernah merasa terasing dari masyarakat. Kehadiran saya di sini adalah bukti nyata bahwa saudara-saudara di luar sana, termasuk kami, masih peduli dan memperhatikan seluruh perkembangan saudara kami di dalam lapas,” seru UAS.
Pesan tersebut menjadi pengingat, bahwa meski terpisah oleh tembok dan jeruji besi, para warga binaan tetap menjadi bagian dari masyarakat.
Mereka tidak kehilangan hak untuk berharap, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Lebih jauh, UAS menegaskan, hidayah bukanlah sesuatu yang hanya bisa ditemukan di luar penjara. Di mana pun seseorang berada, kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tetap terbuka.
“Temukan hidayah itu di sini, karena pintu hidayah tidak pernah tertutup untuk siapa pun. Allah SWT selalu membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin bertobat,” pesannya.
Bagi para warga binaan yang tengah menjalani masa pidana, pesan tersebut menghadirkan makna tersendiri. Di balik keterbatasan ruang gerak, masih ada kesempatan untuk membenahi hati, memperkuat iman, dan menyiapkan langkah baru ketika kelak kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Menanam Harapan di Balik Tembok Lapas
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Eko Ari Wibowo, mengaku bangga atas kehadiran UAS dalam kegiatan pembinaan kerohanian tersebut.
Dia berharap tabligh akbar ini dapat menjadi sumber semangat baru bagi warga binaan sekaligus memperkuat pembinaan spiritual yang dijalankan di dalam lapas.
Menurut Eko, proses pemasyarakatan tidak semata-mata berkaitan dengan pelaksanaan hukuman. Lebih dari itu, pembinaan juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk melakukan introspeksi, membangun karakter, dan mempersiapkan diri agar dapat kembali menjalani kehidupan bermasyarakat secara positif.
“Dengan kehadiran UAS ini, kami ingin mereka tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke masyarakat nanti,” harap Eko.
Harapan itu sejalan dengan semangat yang diusung dalam tabligh akbar tersebut. Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, ia tumbuh dari kesadaran sederhana untuk mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan bertekad tidak mengulangi masa lalu.
Karena itu, pembinaan kerohanian menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kesiapan mental dan spiritual warga binaan selama menjalani masa pidana.
Doa Mengiringi Harapan untuk Pulang
Rangkaian tabligh akbar ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh UAS. Suasana haru menyelimuti lapangan ketika para warga binaan menengadahkan tangan, memohon ampunan, keteguhan hati, serta kekuatan untuk menjalani sisa masa pembinaan.
Di antara doa-doa yang terucap, tersimpan harapan untuk dapat menata kehidupan kembali dan suatu hari berkumpul bersama keluarga. Bagi mereka, keluarga bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi juga bagian dari masa depan yang ingin diperjuangkan.
Momen tersebut menjadi penutup yang sarat makna. Di balik jeruji, harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik tetap tumbuh. Masa pidana yang dijalani diharapkan tidak sekadar menjadi waktu untuk menunggu kebebasan, tetapi juga kesempatan untuk membangun kesadaran dan memperkuat nilai-nilai kehidupan.
Melalui program pembinaan kerohanian seperti ini, Lapas Kelas IIA Pekanbaru berharap warga binaan semakin kuat secara mental dan spiritual, serta memiliki motivasi untuk memperbaiki diri.
Sebab, ketika masa pembinaan berakhir, tantangan sesungguhnya adalah membawa perubahan itu ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekal iman, kemauan untuk berubah, dan dukungan masyarakat, para warga binaan diharapkan mampu membuka lembaran baru dan kembali berperan positif di tengah lingkungan sosialnya.
Di balik jeruji yang membatasi langkah, tabligh akbar itu menyampaikan satu pesan yang kuat: setiap orang masih memiliki kesempatan untuk berubah, dan harapan untuk memulai kembali tidak pernah sepenuhnya hilang. (Van).