PEKANBARU, RAJARIAU– Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Riau mendorong pelaku usaha perhotelan dan penyelenggara kegiatan memperkuat manajemen risiko serta sistem pengamanan.
Langkah ini dinilai penting untuk mencegah potensi gangguan sekaligus meningkatkan rasa aman dan kepercayaan wisatawan yang berkunjung ke Riau.
Ketua PHRI Riau, Drs Nofrizal MM, mengatakan hotel merupakan salah satu objek tertentu yang memiliki aktivitas tinggi karena kerap menjadi lokasi berbagai kegiatan.
“Hotel itu termasuk objek tertentu yang selama ini banyak melakukan kegiatan. Tentu setiap kegiatan itu mengandung risiko. Karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mencegah risiko yang mungkin terjadi,” ujar Nofrizal.
Pernyataan itu disampaikan setelah sosialisasi risk assessment dan pengamanan objek vital serta objek tertentu yang digelar BPD PHRI Riau bersama Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamobvit) Polda Riau.
Menurut Nofrizal, penerapan manajemen risiko bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari upaya memberikan rasa aman kepada tamu.
“Kalau keamanan dan kenyamanan bisa kita jaga, tentu kepercayaan wisatawan juga semakin meningkat,” katanya.
Ia juga mendorong agar standar pengamanan diterapkan pada berbagai kegiatan outdoor, tidak hanya di hotel.
“Kalau kegiatan-kegiatan yang ada di luar atau outdoor juga memiliki standar pengamanan yang baik, tentu ini semakin meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap Provinsi Riau,” ujarnya.
Polda Riau Dorong Risk Assessment
Direktur Pengamanan Objek Vital (Dir Pamobvit) Polda Riau Kombes Pol Suherman Zein mengatakan setiap penyelenggara kegiatan perlu melakukan risk assessment sebelum event dilaksanakan.
Menurut dia, analisis risiko diperlukan untuk mengetahui potensi gangguan sehingga langkah pengamanan dapat disiapkan secara tepat.
“Risk assessment atau analisis risiko ini kita akan memopulerkan bagaimana suatu daerah atau suatu kegiatan yang memerlukan risk assessment untuk menilai dampak risiko yang mungkin terjadi pada saat event atau kegiatan itu diselenggarakan,” kata Suherman.
Ia menegaskan, pengamanan kegiatan memiliki landasan hukum dan tidak hanya berlaku bagi objek fisik, tetapi juga kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Pacu Jalur.
“Kegiatan-kegiatan yang banyak diselenggarakan oleh kabupaten-kabupaten kota, khususnya kegiatan kebudayaan maupun kegiatan nasional seperti yang dalam waktu dekat ini Pacu Jalur, kita harus melakukan risk assessment seperti ini,” ujarnya.
Suherman menegaskan risk assessment bukan untuk menghambat kegiatan, melainkan memastikan potensi risiko dapat diketahui dan diantisipasi sejak awal.
“Melakukan risk assessment itu penting untuk mengetahui risiko yang mungkin terjadi sehingga langkah pengamanan dapat disiapkan dengan baik,” katanya.
Dorong Dukungan Pembiayaan
Selain keamanan, PHRI Riau juga mendorong dukungan pembiayaan bagi pelaku sektor pariwisata.
Nlofrizal berharap perbankan, termasuk Bank BTN, dapat membantu akses pembiayaan usaha serta kepemilikan rumah bagi karyawan hotel dan pekerja sektor pariwisata.
“Kalau bisa dimanfaatkan untuk mendukung usaha pariwisata, tentu akan lebih baik,” ujarnya.
PHRI berharap sinergi antara kepolisian, pemerintah, perbankan dan pelaku usaha dapat memperkuat ekosistem pariwisata Riau.
Dengan keamanan yang terjamin dan industri yang semakin kuat, kepercayaan wisatawan diharapkan meningkat dan berdampak pada pertumbuhan pariwisata Riau.(Van)